Grup Wa Belajar Bahasa Mandarin

Cheap Ad

  • This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Showing posts with label yesus. Show all posts
Showing posts with label yesus. Show all posts

C. Konsep Logos - Logos, Memra, dan Yesus

Logos, Memra, dan Yesus


Salah satu konsep yang menarik di dalam Kekeristenan adalah konsep mengenai Yesus sebagai “Logos (λόγος) ‘Firman’”. Pernyataan bahwa Tuhan Yesus adalah “Logos (λόγος) ‘Firman’” tercantum di dalam Injil Yohanes:

Pada permulaan, terdapat Logos, dan Logos tersebut bersama-sama dengan Sang Theos, dan Logos tersebut adalah seorang Theos

Yunani: Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος.

Injil Yohanes 1:1, Teks Byzantium, Terjemahan Literal

Frase ini merupakan frase yang sangat terkenal sekali di dalam Injil Yohanes. Yohanes membuat pernyataan yang sangat mencengangkan bahwa Tuhan Yesus adalah Logos (λόγος). Tidak hanya itu saja, Yohanes lebih jauh lagi melanjutkan tulisannya bahwa Logos (λόγος) juga adalah Allah.

Mengingat frase mengenai Logos (λόγος) ini hanya muncul pada Yohanes 1 saja dan Yohanes tampaknya tidak menjelaskan lebih detail lagi mengenai siapa itu Logos (λόγος), maka muncul dugaan kuat bahwa tampaknya konsep Logos (λόγος) ini merupakan konsep yang sangat umum sekali pada zaman itu sehingga Yohanes merasa tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi mengenai siapa dan apa itu Logos (λόγος).

Konsep Logos (λόγος) ini memang merupakan konsep yang sangat umum sekali pada zaman Yohanes hidup. Kata Logos (λόγος) sendiri dalam dunia Helenisme memiliki arti “firman”, “peribahasa”, “pernyataan”, “kisah”, “pembelaan”, atau bahkan “ringkasan”. Banyaknya makna dari kata “Logos (λόγος)” ini bergantung pada konteks tempat dan juga masa pada saat kata tersebut dipakai.



Konsep Logos (λόγος) ini merupakan konsep yang sangat populer sekali di kalangan Helenisme. Di kalangan orang-orang Yahudi sendiri, yang mempopulerkan konsep Logos (λόγος) ini adalah “Philo dari Aleksandria”, seorang penafsir alegoris Yahudi terkenal dan juga seorang filsuf terkemuka Yahudi pada zaman itu yang hidup di Aleksandria pada tahun 25 SM–50 M.

Gampangnya, Philo hidup 20 tahun sebelum Yesus lahir dan dia masih hidup 20 tahun ketika Tuhan Yesus mati. Hal ini berarti bahwa Philo hidup sezaman dengan Yesus dan juga para rasul dan hal ini memunculkan dugaan bahwa pengajaran-pengajaran Philo – termasuk dalam soal Logos (λόγος) – mempengaruhi Paulus dan juga rasul-rasul lainnya pada zaman itu.

Bahkan, bapa-bapa gereja seperti Clement dari Alexandria, Athenagoras, Theophilus, Yustinus Martir, Tertulianus, dan juga Origenes terlihat terpengaruh oleh ajaran-ajaran Philo. Philo memadukan konsep dari kebijaksanaan Yunani dengan agama Ibrani dengan penafsiran alegoris yang dia pelajari dari kaum Stoics.

Dengan konsep Logos (λόγος) yang dipopulerkan oleh Philo ini, membuat penulis Injil Yohanes tampaknya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar mengenai siapa itu Logos (λόγος) karena Philo sudah mengupasnya secara tuntas di dalam karya-karyanya mengenai siapa itu Logos (λόγος).

Daniel Boyarin mengatakan bahwa bagian terbesar dari pemikiran Helenisme yang masuk ke dalam Kekeristenan mula-mula adalah konsep mengenai Logos (λόγος) yang sebenarnya merupakan bagian integral dari Yudaisme abad pertama. Daniel Boyarin memberikan penegasan seperti ini mengenai konsep Logos (λόγος) di dalam Yudaisme:

Yudaisme dan Kekeristenan tetap terjalin dengan baik melewati pertengahan pertama dari abad kedua sampai pada Yudaisme Rabbinik di dalam usaha dari para native (pribumi) mereka berusaha untuk memisahkan diri dari sejarah mereka sendiri terhadap teologi Logos Kristen sekarang, dan Yudaisme memulai untuk membayangkan dirinya sendiri sebagai sebuah komunitas yang terbebas dari Helenisme.

Inggris: Judaism(s) and "Christianit(ies)" remained intertwined well past the first half of the second century until Rabbinic Judaism in its nativist attempt to separate itself from its own history of now "Christian" logos theology began to try to imagine itself a community free of Hellenism.



Dengan demikian, pada awalnya terlihat bahwa Logos (λόγος) merupakan konsep yang sebenarnya berasal dari Yudaisme, tetapi perlahan-lahan, orang Yahudi sendiri yang akhirnya mulai memisahkan diri dari konsep mereka sendiri.

B. Pengabaian Konsep Yudaisme - Logos, Memra, dan Yesus

Logos, Memra, Yesus


Ironisnya yang terjadi di dalam Kekeristenan saat ini adalah pengabaian akan konsep Yudaisme itu sendiri di dalam Kekeristenan. Pada umumnya, para sarjana Kristen (termasuk juga dari para sarjana Yahudi sendiri) telah menanamkan sebuah keyakinan yang berakar sangat kuat di kalangan mereka sendiri bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok dan tajam di antara Kekeristenan dan Yudaisme pada masa awal Kekeristenan.

Seorang sejarawan dogma gereja, Basil Studer mengatakan seperti ini:

Dari sudut pandang politik sosial, Kekristenan cukup cepat memisahkan diri dari Yudaisme. Sekitar tahun 130, pemisahan akhir itu sudah terasa efeknya. Ini jelas berkontribusi kepada sebuah keterbukaan yang lebih hebat terhadap pengaruh budaya dan agama dan lingkungan Romawi-Yunani. Bukan tanpa alasan, pada waktu itu, jelas bahwa kebangkitan tren anti-Yudaisme dan Gnostik Hellenophile diduga. Teologi Kristen perlahan-lahan mulai memisahkan diri dari kecenderungan Yudaisme.

Sepanjang pemisahan dari Sinagog dan penyesuaian dengan dunia pagan, teologi itu sendiri menjadi lebih terbuka kepada pemikiran kuno dengan metode-metode ilmiahnya. Ini khususnya terlihat jelas di dalam eksegesis Kitab Suci yang di dalamnya jurang yang memisahkannya dari metode-metode rabbinik semakin luas dan dalam, sementara seni penafsiran kuno sebagaimana yang dipraktekkan khususnya di Aleksandria meraih kemenangan.

Inggris:

From the socio-political point of view, Christianity fairly soon broke away from Judaism. Already by about 130 the final break had been effected. This certainly contributed to an even greater openness towards religious and cultural influences from the Greco-Roman environment. Not without reason, then, it is exactly at that time that the rise of antijudaistic and hellenophile gnostic trends is alleged. Christian theology began gradually to draw away from Judaic tendencies.

In the course of separation from the Synagogue and of rapprochement with the pagan world, theology itself became more open towards the thinking of antiquity with its scientific methods. This is particularly evident in the exegesis of Holy Scripture in which the chasm separating it from rabbinic methods broadened and deepened, whereas the ancient art of interpretation as it was exercised especially in Alexandria gained the upper hand.



Dari keterangan Basil Studer ini, terlihat bahwa pada awalnya Kekeristenan itu sangat dekat sekali dengan Yudaisme, tetapi perlahan-lahan, Kekeristenan mulai keluar dari Yudaisme dan mulai mencondongkan diri ke arah Yunani-Romawi. Yudaisme sendiri pada zaman itu mulai menjauhkan diri dari pengaruh Helenisme dan mulai memisahkan diri mereka dari Helenisme sehingga terbentuklah Yudaisme Rabbinik.

Dengan menjauhnya Yudaisme dari Kekeristenan, otomatis semakin memperparah jurang lebar antara Yudaisme dengan Kekeristenan. Hal ini juga semakin diperparah dengan membeludaknya jumlah orang-orang non-Yahudi yang menjadi penganut Kristen, di mana jumlah para petobat non-Yahudi ini mulai melampaui jumlah orang-orang Yahudi Kristen.

Membeludaknya jumlah penganut Kristen non-Yahudi ini jelas memberikan pengaruh yang sangat luar biasa dalam Kekeristenan, di mana para penganut Kristen non-Yahudi memberikan kecenderungan Helenisme dan juga kecenderungan anti-Yudaisme. Sebagai contoh, Athanasius (293 M–373 M), seorang uskup terkenal di Aleksandria, berusaha menghilangkan jejak-jejak Yudaisme di dalam Kekeristenan dan membawa Kekeristenan ke arah Helenisme. Hal ini yang membuat Kekeristenan semakin lama semakin terpisah dari Yudaisme dan akhirnya memisahkan diri dari Yudaisme.

Pemisahan antara Yudaisme dan Kekeristenan jelas berdampak sangat fatal di dalam Kekeristenan karena Kekeristenan ditarik keluar dari Yudaisme seolah-olah Kekeristenan adalah sebuah agama yang berdiri sendiri yang tidak terikat dengan Yudaisme. Semua konsep-konsep Yudaisme dan teologi-teologi Yudaisme diabaikan dalam Kekeristenan sehingga yang terjadi di dalam Kekeristenan saat ini adalah lahirnya teologi-teologi yang sebenarnya sangat tidak sesuai dengan apa yang dahulu Tuhan Yesus dan para rasul pahami dan imani ketika mereka masih hidup di dunia.

Kekeristenan berusaha dipahami dan ditafsir keluar dari konteks Yudaismenya sehingga lahirlah teologi-teologi yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus dan para rasul pahami pada zaman itu. Kekeristenan mulai benar-benar memisahkan diri dari Yudaisme pada pemberontakan Yahudi yang kedua pada zaman Bar Khokba (132–135 M) di mana Kekeristenan benar-benar keluar seutuhnya dari Yudaisme.



Pandangan ini tidak hanya diyakini oleh sarjana Kristen saja, tetapi para sarjana Yahudi juga meyakini bahwa pada zaman Bar Khokba, Kekeristenan memisahkan diri secara total dari Yudaisme.

Banyaknya penyimpangan-penyimpangan teologi yang terjadi di dalam Kekeristenan disebabkan karena Kekeristenan berusaha dipahami dan ditafsir keluar dari konteks Yudaismenya. Sebagai contoh, konsep mengenai datangnya Kerajaan Allah, banyak sekali teolog-teolog Kristen yang membuat tafsirannya sendiri tanpa memperhatikan pandangan Yudaisme mengenai apa itu Kerajaan Allah sehingga lahirlah banyak konsep Kerajaan Allah yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh Tuhan Yesus dan para rasul itu sendiri.

Konsep mengenai Mesias pun juga merupakan salah satu contoh nyata yang terjadi di dalam Kekeristenan di mana banyak sekali di antara orang-orang Kristen yang sebenarnya memahami konsep Mesias itu lain sebagaimana yang sebenarnya Tuhan Yesus sendiri pahami mengenai diri-Nya sendiri dan juga para rasul pahami.

Masih banyak contoh-contoh lain mengenai kekeliruan yang akan timbul dalam memahami Kekeristenan jikalau mengabaikan dan tidak mengadakan penelitian yang serius mengenai latar belakang Yudaisme itu sendiri secara komprehensif. Pengetahuan mengenai adat, kebiasaan, dan juga ajaran yang berkembang pada Yudaisme pada zaman itu jelas akan memberikan banyak sekali manfaat bagi orang-orang Kristen, seperti misalnya untuk memahami berbagai pertentangan yang Yesus alami dengan orang-orang Yahudi pada zaman-Nya.



A. Kekristenan Berasal Dari Yudaisme - Logos, Memra, dan Yesus

Kekristenan Berasal dari Yudaisme

A. Kekristenan Berasal dari Yudaisme

Kekristenan merupakan sebuah paham keagamaan yang lahir dari Yudaisme (istilah yang dipakai Nikolaus Walter bahwa “Kekristenan Primitif” berasal dari Yudaisme). Sebuah fakta yang tidak dapat dibantah sama sekali bahwa Kekristenan memang berasal dari Yudaisme. Jacob Neusner dan Bruce Chilton bahkan mengatakan bahwa jika seseorang mempelajari ilmu tentang agama, maka tidak ada premis yang lebih baik yang dapat ditemukan selain fakta bahwa Kekristenan berasal dari Yudaisme. Dapat dikatakan bahwa jika tidak ada Yudaisme, maka sangat tidak mungkin Kekristenan dapat lahir.

Kekristenan bukanlah sebuah agama yang lahir sendiri dan memiliki konsep-konsep mereka sendiri mengenai doktrin-doktrin yang ada di dalam kepercayaan mereka. Baik Yesus maupun murid-murid-Nya berasal dari Israel dan mereka jelas mempercayai kitab-kitab Israel sebagai firman Allah. Semua kepercayaan dan juga praktik yang ada di dalam Kekristenan berasal dari Yudaisme. Misalnya, kepercayaan akan Allah yang esa, kepercayaan akan Allah yang berbicara kepada Musa, kepercayaan terhadap Perjanjian Lama sebagai kitab suci, praktik baptisan, perjamuan kudus, berkumpul di tempat ibadah pada hari ke-7, kerajaan Allah, serta kepercayaan mengenai hadirnya Mesias. Semua konsep tersebut jelas berasal dari Yudaisme.

Orang Kristen Yahudi mula-mula sama sekali tidak menganggap kepercayaan mereka bahwa Yesus adalah Mesias sebagai sebuah paham keagamaan yang baru. Mereka justru berkeyakinan bahwa mereka tetaplah penganut Yudaisme. Istilah “Kristen” (Khristianos, Χριστιανός) yang berarti “pengikut Kristus” justru diberikan oleh komunitas non-Yahudi di Antiokhia, bukan oleh komunitas Yahudi (Kis. 11:26).

Sangat tidak mungkin jika orang Yahudi yang memberikan sebutan “Kristen” (Khristianos, Χριστιανός) kepada komunitas orang Kristen di Antiokhia, sebab istilah tersebut berarti “pengikut Mesias”. Jika orang Yahudi yang memberikannya, maka itu sama saja dengan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, sesuatu yang jelas tidak mereka akui. Oleh sebab itu, sebutan tersebut hampir pasti berasal dari komunitas non-Yahudi.



Dari sudut pandang orang Yahudi sendiri, terdapat keterangan yang cukup jelas bahwa para pengikut Yesus dianggap sebagai sebuah sekte atau mazhab yang berkembang di dalam Yudaisme (Kis. 24:14; 28:22). Kata “sekte” atau “mazhab” yang digunakan dalam teks Yunani adalah airesis (αἵρεσις), yang berarti sekte keagamaan. Istilah yang sama juga digunakan untuk menyebut kelompok orang Farisi (Kis. 15:5). Hal ini menunjukkan bahwa komunitas pengikut Yesus tidak dipandang sebagai agama baru, melainkan sebagai salah satu mazhab dalam Yudaisme.

Walaupun kepercayaan orang Kristen Yahudi mula-mula menimbulkan bentrokan dengan Yudaisme arus utama pada masa itu, mereka tetap dianggap sebagai bagian dari Yudaisme. Oleh sebab itu, orang-orang Yahudi menyebut mereka sebagai sebuah “sekte” (airesis, αἵρεσις) di dalam Yudaisme.

Orang-orang Kristen Yahudi mula-mula tidak pernah menganggap diri mereka sebagai komunitas yang terpisah dari Yudaisme. Mereka tidak membangun doktrin-doktrin asing yang terlepas dari tradisi Yudaisme, karena mereka tidak pernah mengklaim diri sebagai agama baru. Semua keyakinan, pemahaman, doktrin, dan praktik yang mereka anut berasal dari Yudaisme, termasuk baptisan, bahasa lidah, kerajaan Allah, konsep Mesias, bahkan metode hermeneutik.



Robert Travers Herford menyatakan bahwa sastra rabinik seperti Talmud, Midrash, dan Mishnah juga harus dilibatkan dalam penelitian yang akurat mengenai asal-usul Kekristenan. Bukan hanya kesusastraannya, tetapi juga cara orang-orang Yahudi menafsirkan Kitab Suci. Dengan demikian, untuk memahami ajaran-ajaran Perjanjian Baru secara tepat, seseorang harus memahami ajaran dan praktik Yudaisme dengan baik.