B. Pengabaian Konsep Yudaisme - Logos, Memra, dan Yesus

Logos, Memra, Yesus


Ironisnya yang terjadi di dalam Kekeristenan saat ini adalah pengabaian akan konsep Yudaisme itu sendiri di dalam Kekeristenan. Pada umumnya, para sarjana Kristen (termasuk juga dari para sarjana Yahudi sendiri) telah menanamkan sebuah keyakinan yang berakar sangat kuat di kalangan mereka sendiri bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok dan tajam di antara Kekeristenan dan Yudaisme pada masa awal Kekeristenan.

Seorang sejarawan dogma gereja, Basil Studer mengatakan seperti ini:

Dari sudut pandang politik sosial, Kekristenan cukup cepat memisahkan diri dari Yudaisme. Sekitar tahun 130, pemisahan akhir itu sudah terasa efeknya. Ini jelas berkontribusi kepada sebuah keterbukaan yang lebih hebat terhadap pengaruh budaya dan agama dan lingkungan Romawi-Yunani. Bukan tanpa alasan, pada waktu itu, jelas bahwa kebangkitan tren anti-Yudaisme dan Gnostik Hellenophile diduga. Teologi Kristen perlahan-lahan mulai memisahkan diri dari kecenderungan Yudaisme.

Sepanjang pemisahan dari Sinagog dan penyesuaian dengan dunia pagan, teologi itu sendiri menjadi lebih terbuka kepada pemikiran kuno dengan metode-metode ilmiahnya. Ini khususnya terlihat jelas di dalam eksegesis Kitab Suci yang di dalamnya jurang yang memisahkannya dari metode-metode rabbinik semakin luas dan dalam, sementara seni penafsiran kuno sebagaimana yang dipraktekkan khususnya di Aleksandria meraih kemenangan.

Inggris:

From the socio-political point of view, Christianity fairly soon broke away from Judaism. Already by about 130 the final break had been effected. This certainly contributed to an even greater openness towards religious and cultural influences from the Greco-Roman environment. Not without reason, then, it is exactly at that time that the rise of antijudaistic and hellenophile gnostic trends is alleged. Christian theology began gradually to draw away from Judaic tendencies.

In the course of separation from the Synagogue and of rapprochement with the pagan world, theology itself became more open towards the thinking of antiquity with its scientific methods. This is particularly evident in the exegesis of Holy Scripture in which the chasm separating it from rabbinic methods broadened and deepened, whereas the ancient art of interpretation as it was exercised especially in Alexandria gained the upper hand.



Dari keterangan Basil Studer ini, terlihat bahwa pada awalnya Kekeristenan itu sangat dekat sekali dengan Yudaisme, tetapi perlahan-lahan, Kekeristenan mulai keluar dari Yudaisme dan mulai mencondongkan diri ke arah Yunani-Romawi. Yudaisme sendiri pada zaman itu mulai menjauhkan diri dari pengaruh Helenisme dan mulai memisahkan diri mereka dari Helenisme sehingga terbentuklah Yudaisme Rabbinik.

Dengan menjauhnya Yudaisme dari Kekeristenan, otomatis semakin memperparah jurang lebar antara Yudaisme dengan Kekeristenan. Hal ini juga semakin diperparah dengan membeludaknya jumlah orang-orang non-Yahudi yang menjadi penganut Kristen, di mana jumlah para petobat non-Yahudi ini mulai melampaui jumlah orang-orang Yahudi Kristen.

Membeludaknya jumlah penganut Kristen non-Yahudi ini jelas memberikan pengaruh yang sangat luar biasa dalam Kekeristenan, di mana para penganut Kristen non-Yahudi memberikan kecenderungan Helenisme dan juga kecenderungan anti-Yudaisme. Sebagai contoh, Athanasius (293 M–373 M), seorang uskup terkenal di Aleksandria, berusaha menghilangkan jejak-jejak Yudaisme di dalam Kekeristenan dan membawa Kekeristenan ke arah Helenisme. Hal ini yang membuat Kekeristenan semakin lama semakin terpisah dari Yudaisme dan akhirnya memisahkan diri dari Yudaisme.

Pemisahan antara Yudaisme dan Kekeristenan jelas berdampak sangat fatal di dalam Kekeristenan karena Kekeristenan ditarik keluar dari Yudaisme seolah-olah Kekeristenan adalah sebuah agama yang berdiri sendiri yang tidak terikat dengan Yudaisme. Semua konsep-konsep Yudaisme dan teologi-teologi Yudaisme diabaikan dalam Kekeristenan sehingga yang terjadi di dalam Kekeristenan saat ini adalah lahirnya teologi-teologi yang sebenarnya sangat tidak sesuai dengan apa yang dahulu Tuhan Yesus dan para rasul pahami dan imani ketika mereka masih hidup di dunia.

Kekeristenan berusaha dipahami dan ditafsir keluar dari konteks Yudaismenya sehingga lahirlah teologi-teologi yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus dan para rasul pahami pada zaman itu. Kekeristenan mulai benar-benar memisahkan diri dari Yudaisme pada pemberontakan Yahudi yang kedua pada zaman Bar Khokba (132–135 M) di mana Kekeristenan benar-benar keluar seutuhnya dari Yudaisme.



Pandangan ini tidak hanya diyakini oleh sarjana Kristen saja, tetapi para sarjana Yahudi juga meyakini bahwa pada zaman Bar Khokba, Kekeristenan memisahkan diri secara total dari Yudaisme.

Banyaknya penyimpangan-penyimpangan teologi yang terjadi di dalam Kekeristenan disebabkan karena Kekeristenan berusaha dipahami dan ditafsir keluar dari konteks Yudaismenya. Sebagai contoh, konsep mengenai datangnya Kerajaan Allah, banyak sekali teolog-teolog Kristen yang membuat tafsirannya sendiri tanpa memperhatikan pandangan Yudaisme mengenai apa itu Kerajaan Allah sehingga lahirlah banyak konsep Kerajaan Allah yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh Tuhan Yesus dan para rasul itu sendiri.

Konsep mengenai Mesias pun juga merupakan salah satu contoh nyata yang terjadi di dalam Kekeristenan di mana banyak sekali di antara orang-orang Kristen yang sebenarnya memahami konsep Mesias itu lain sebagaimana yang sebenarnya Tuhan Yesus sendiri pahami mengenai diri-Nya sendiri dan juga para rasul pahami.

Masih banyak contoh-contoh lain mengenai kekeliruan yang akan timbul dalam memahami Kekeristenan jikalau mengabaikan dan tidak mengadakan penelitian yang serius mengenai latar belakang Yudaisme itu sendiri secara komprehensif. Pengetahuan mengenai adat, kebiasaan, dan juga ajaran yang berkembang pada Yudaisme pada zaman itu jelas akan memberikan banyak sekali manfaat bagi orang-orang Kristen, seperti misalnya untuk memahami berbagai pertentangan yang Yesus alami dengan orang-orang Yahudi pada zaman-Nya.



0 Comments:

Post a Comment