IHSG Crash 5,31%: Transparansi Pemegang Saham, Tuntutan MSCI, dan Risiko Saham Konglo
Senin, 2 Februari 2026 menjadi hari yang sangat berat bagi pasar keuangan Indonesia. IHSG mengalami koreksi tajam hingga 5,31%, sebuah penurunan yang bisa dibilang ekstrem dan memicu kepanikan di banyak saham, baik saham konglomerasi maupun saham gorengan.
IHSG Roboh, Saham Konglomerasi dan Gorengan Tertekan
Penurunan ini tidak hanya menimpa saham-saham kecil. Saham-saham konglomerasi ikut roboh, bahkan banyak di antaranya mengalami tekanan beruntun. Saham gorengan pun tak luput dari hantaman, mencerminkan kondisi pasar yang benar-benar dalam fase risk-off.
Saham-saham berbasis komoditas seperti emas dan perak juga ikut jatuh, seiring dengan penurunan harga emas global dan tekanan lanjutan pada logam mulia. Saham-saham seperti Antam dan emiten terkait komoditas menjadi korban kombinasi sentimen negatif yang datang bersamaan.
Fundamental Tidak Pernah Bohong
Di tengah kejatuhan pasar, terlihat kontras yang menarik. Saham-saham yang selama ini dicap “fundamental is dead” justru relatif lebih aman. Penurunan memang ada, tetapi jauh lebih tipis dibanding saham konglomerasi dengan free float kecil.
Saham-saham berfundamental kuat, terutama yang terkait sektor ekspor-impor dan memiliki valuasi wajar, terbukti lebih tahan banting. Bahkan, beberapa saham dengan rasio PBV rendah justru menunjukkan penguatan relatif.
Hal ini sekali lagi menegaskan bahwa fundamental tidak pernah bohong. Dalam kondisi pasar ekstrem, kualitas bisnis tetap menjadi penentu utama daya tahan harga saham.
Aturan Baru: Pemegang Saham di Atas 1% Akan Dibuka
Salah satu isu besar yang membayangi pasar adalah rencana pembukaan data pemegang saham di atas 1% ke publik. Aturan ini mengikuti standar pasar Amerika dan menjadi salah satu tuntutan utama dari MSCI.
Selama ini, data kepemilikan saham di Indonesia umumnya hanya terbuka hingga batas 5%. Ke depan, OJK berencana merevisi regulasi agar kepemilikan hingga 1% bisa diakses publik demi meningkatkan transparansi pasar.
Contoh Kasus Telkom dan Free Float Sebenarnya
Jika melihat data lokal, kepemilikan publik Telkom tampak sekitar 47%. Namun, karena Telkom juga terdaftar di Amerika, aturan yang berlaku adalah standar Amerika.
Dalam perhitungan MSCI, kepemilikan di atas 1% tidak dihitung sebagai free float. Akibatnya, free float riil Telkom hanya sekitar 40,9%. Perbedaan inilah yang menjadi perhatian utama MSCI.
Dampak ke Saham dengan Free Float Kecil
Saham-saham dengan free float di bawah 15% berada dalam posisi paling rentan. Opsi yang tersedia bagi emiten-emiten ini tidaklah mudah:
- Right Issue – Risiko besar karena harus menjual saham di harga diskon agar terserap pasar.
- Menjual Saham Pemilik Lama ke Publik – Sulit dilakukan dalam jumlah besar, apalagi jika likuiditas rendah.
- Buyback & Delisting – Menjadikan perusahaan kembali privat.
Bagi saham konglomerasi dan gorengan, opsi-opsi ini berpotensi menekan harga lebih dalam, terutama jika pasar tidak mampu menyerap tambahan saham.
Saham Fundamental: Risiko Ada, Tapi Lebih Terkontrol
Saham berfundamental kuat tetapi memiliki free float rendah (misalnya di bawah 7,5%) tetap memiliki risiko, namun relatif lebih terkendali. Jika terjadi right issue, biasanya dilakukan dengan diskon agar menarik investor dan bersifat jangka pendek dampaknya.
Berbeda dengan saham gorengan, saham fundamental masih memiliki basis investor yang siap menyerap aksi korporasi semacam ini.
Kenapa Tuntutan MSCI Penting?
Isu ini bukan soal “dikuasai asing”. Dalam struktur pertumbuhan ekonomi, investasi asing merupakan salah satu komponen penting selain konsumsi domestik dan belanja pemerintah.
Jika MSCI benar-benar menarik diri, potensi arus keluar dana asing bisa mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Dampaknya bukan hanya ke IHSG, tetapi ke seluruh roda ekonomi.
Sebaliknya, jika transparansi dan tata kelola pasar membaik, Indonesia bisa menjadi tujuan investasi global melalui reksa dana dan ETF internasional.
Pelajaran Penting untuk Investor
Kejatuhan ini menjadi pengingat keras bahwa:
- Saham gorengan dan konglomerasi dengan free float kecil memiliki risiko ekstrem.
- Dividen memberikan bantalan psikologis dan fundamental saat harga turun.
- Timing pasar tidak pernah konsisten berhasil.
- Ilmu dan manajemen risiko harus disiapkan sebelum masuk pasar.
Hari ini bukan hanya hari merah, tapi hari refleksi bagi investor. Fundamental memang tidak pernah bohong, dan transparansi akan menjadi masa depan pasar modal Indonesia.
Stay rational, stay disciplined.
0 Comments:
Post a Comment