Apakah Kisah Nyangkut Di Emas Tahun 1980 dan 2011 Bisa Terulang Lagi Di Zaman Sekarang?

Apakah Sejarah Emas 1980 dan 2011 Bisa Terulang?

Apakah Sejarah Harga Emas Tahun 1980 dan 2011 Bisa Terulang?

Pada Sabtu, 31 Januari 2026, pembahasan mengenai emas kembali menjadi sorotan. Pertanyaan besar yang sering muncul di kalangan investor adalah: apakah kejatuhan harga emas seperti yang terjadi pada tahun 1980 dan 2011 bisa terulang kembali di masa sekarang?

Sejarah menunjukkan bahwa emas pernah mengalami periode yang sangat panjang untuk kembali ke harga puncaknya. Hal inilah yang membuat banyak investor khawatir akan risiko “nyangkut” dalam jangka waktu bertahun-tahun.

Pelajaran dari Kejadian Tahun 1980

Pada tahun 1980, harga emas sempat mencapai puncaknya di kisaran 670 dolar AS. Namun, setelah mencapai level tersebut, harga emas mengalami penurunan panjang dan baru kembali ke level yang sama sekitar 26 tahun kemudian, yakni pada tahun 2006.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah kebijakan suku bunga. Data menunjukkan bahwa pada periode tersebut, The Fed menaikkan suku bunga secara agresif. Suku bunga acuan bahkan sempat mencapai 12%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (SBN) tembus hingga sekitar 16%, bahkan pernah menyentuh 19%.

Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada di level sangat tinggi, terjadi pergeseran besar-besaran dana investor dari emas ke obligasi negara. Dalam kondisi ini, emas menjadi instrumen yang kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil setinggi SBN.

Inilah alasan utama mengapa emas pada periode tersebut mengalami fase bear market atau pergerakan sideways dalam jangka waktu yang sangat panjang.



Kejadian Berbeda di Tahun 2011

Berbeda dengan tahun 1980, peristiwa tahun 2011 justru terjadi saat suku bunga berada di level yang sangat rendah. Setelah krisis keuangan global 2008, The Fed menurunkan suku bunga hingga mendekati 0,1% dan mempertahankannya hingga sekitar Oktober 2015.

Suku bunga rendah dalam waktu lama membuat likuiditas di pasar sangat melimpah. Uang menjadi mudah beredar dan investor cenderung mencari instrumen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Dalam kondisi ini, saham menjadi jauh lebih menarik dibandingkan emas. Akibatnya, harga emas kembali mengalami pergerakan yang cenderung stagnan atau sideways hingga sekitar tahun 2016.



Dua Kondisi yang Kurang Baik untuk Emas

Dari dua peristiwa sejarah tersebut, dapat ditarik sebuah hipotesis awal bahwa ada dua kondisi utama yang tidak menguntungkan bagi harga emas:

  • Suku bunga terlalu tinggi
    Seperti pada tahun 1980, ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada di level sangat tinggi (16–19%), investor lebih memilih obligasi negara dibanding emas.
  • Suku bunga terlalu rendah
    Seperti pada periode 2011 hingga pasca-krisis, ketika suku bunga berada di kisaran 0,1%, investor cenderung beralih ke saham atau aset berisiko lain, termasuk kripto.

Kondisi Suku Bunga Saat Ini dan Dampaknya bagi Emas

Lalu, bagaimana dengan kondisi saat ini? Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 4%–5%. Level ini tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah.

Dalam kondisi suku bunga moderat seperti ini, imbal hasil SBN tidak terlalu menarik hingga mengalahkan emas, sementara pasar saham juga tidak berada pada fase euforia ekstrem. Hal ini membuat emas dan perak kembali menjadi instrumen investasi yang relatif menarik.



Peran Inflasi dalam Kebijakan Suku Bunga

Peningkatan suku bunga ekstrem di tahun 1980 tidak lepas dari lonjakan inflasi di Amerika Serikat yang sempat mencapai sekitar 13%. Untuk menjinakkan inflasi tersebut hingga ke level 3%, bank sentral terpaksa menaikkan suku bunga secara agresif.

Sebaliknya, ketika inflasi terlalu rendah atau bahkan mendekati nol, bank sentral cenderung menurunkan suku bunga serendah mungkin untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kesimpulan untuk Investor Emas dan Perak

Bagi investor emas dan perak, penting untuk memahami bahwa kejadian seperti tahun 1980 atau 2011 tidak terjadi begitu saja. Ada indikator-indikator utama yang harus diperhatikan, terutama tingkat suku bunga dan kondisi inflasi.

Jika seseorang berharap skenario 1980 terulang, maka suku bunga dan imbal hasil obligasi harus naik hingga level ekstrem. Jika berharap skenario 2011 terulang, maka suku bunga harus turun mendekati nol.




Dalam kondisi saat ini, yang terpenting adalah membangun strategi investasi yang kuat, siap menghadapi risiko, dan memahami bahwa setiap keputusan investasi selalu memiliki konsekuensi.

Jika yakin dengan analisis dan sudah siap menanggung risikonya, maka silakan melangkah. Namun, jika masih ragu, mencari alternatif investasi lain adalah pilihan yang bijak.

Semoga pembahasan ini bermanfaat dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi ke depan.

0 Comments:

Post a Comment