Potensi US Government Shutdown Akhir Januari 2026: Ancaman bagi Saham dan Kripto, Peluang bagi Emas dan Perak
Pada Minggu, 25 Januari 2026, muncul kembali kabar kurang baik dari Amerika Serikat. Berdasarkan data terbaru dari Polymarket, peluang terjadinya US Government Shutdown pada 31 Januari 2026 meningkat hingga 77%. Angka ini melonjak tajam hanya dalam 24 jam terakhir, mencerminkan meningkatnya ketegangan politik di Washington.
Peningkatan probabilitas ini terjadi di tengah tertundanya pembahasan Clarity Act, sebuah undang-undang penting yang bertujuan memberikan kejelasan regulasi bagi industri kripto. Proses legislasi ini kembali melambat akibat dinamika politik yang belum menemukan titik temu, pola yang sebelumnya juga terjadi saat shutdown panjang pada Oktober–November.
Shutdown tersebut berlangsung selama 43 hari dan tercatat sebagai shutdown terlama dalam sejarah Amerika Serikat.
Pelajaran dari Shutdown Sebelumnya
Jika menilik ke belakang, dampak shutdown Oktober–November masih segar dalam ingatan pelaku pasar. Pada periode tersebut, pasar saham dan kripto mengalami kejatuhan signifikan, sementara emas dan perak justru melonjak tajam.
Data historis menunjukkan bahwa pada 1 Oktober, harga emas berada di kisaran USD 3.875. Dalam waktu singkat, harga emas melonjak ke puncak sekitar USD 4.348, atau naik sekitar 12%.
Perak juga menunjukkan performa serupa. Dari harga sekitar USD 46, perak naik hingga USD 54, mencatatkan kenaikan sekitar 17% hanya dalam dua minggu pertama.
Potensi Dampak Jika Shutdown Terulang
Dengan meningkatnya peluang shutdown, banyak pihak menilai bahwa pola sejarah berpotensi terulang. Jika itu terjadi, emas diperkirakan dapat menembus USD 4.987, bahkan tidak menutup kemungkinan menuju USD 5.500.
Perak pun dinilai memiliki peluang kenaikan signifikan. Hal ini didorong oleh karakteristik fiat money yang dapat dicetak tanpa batas, berbanding terbalik dengan emas dan perak yang suplai fisiknya semakin langka.
Fenomena Dual Market pada Perak
Kondisi pasar perak saat ini menunjukkan fenomena dual market. Di pasar Amerika, harga perak berada di kisaran USD 100, sementara di pasar fisik Shanghai, harga telah menembus USD 113.
Perbedaan ini mencerminkan ketimpangan antara pasar perak fisik dan pasar perak kertas (paper silver). Ketimpangan tersebut membuka peluang arbitrase, di mana pelaku pasar membeli perak di Amerika untuk dijual di China.
Namun, kondisi ini tidak dapat bertahan selamanya. Bahkan muncul dugaan adanya upaya penahanan harga perak di pasar Amerika, terutama karena banyak institusi keuangan besar mengambil posisi short pada perak.
Kesimpulan
Apakah crash pasar akan terjadi dalam waktu dekat? Tidak ada yang dapat memastikan. Namun, jika sejarah kembali terulang, emas dan perak berpotensi mengalami lonjakan besar, sementara kripto dan pasar saham berisiko mengalami tekanan berat, dengan kripto diperkirakan menjadi aset yang paling terdampak.
Pelajaran terpenting adalah membaca sejarah, bukan sekadar menebak arah pasar. Dalam kondisi ketidakpastian global, pemahaman terhadap siklus dan dinamika pasar menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan investasi.
0 Comments:
Post a Comment