Grup Wa Belajar Bahasa Mandarin

Cheap Ad

  • This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Sritex Resmi PHK Karyawan 2025. Yamaha dan Sanken Menyusul. Salah Siapa?

PHK Sritex
Terjadinya PHK di Sritex, Yamaha, dan Sanken terjadi bermula ketika terjadi housing crash di China yang menyebabkan ekonomi China mengalami perlambatan yang dashyat. Hal ini membuat China mau tidak mau harus memberikan stimulus besar-besaranan dengan cetak uang ribuan triliun sehingga produk-produknyanya bisa menjadi sangat murah meriah.

Harusnya, pemangku jabatan sudah harus bereaksi keras dengan menurunkan pajak dalam negeri dan juga memperbanyak subsidi dan stimulus supaya daya beli rakyat terjaga dan perusahaan juga tidak tertekan dengan pajak.

But you know what they have been doing? Mereka malah sibuk bahas PPN 12 persen, bahas cabut gas melon, bahas pencabutan subsidi BBM, bahas kenaikan iuran BPJS, efisiensi anggaran, dll yang jelas-jelas melemahkan daya beli. Jika daya beli lemah, otomatis banyak perusahaan yang penjualannya jadi menurun karena pada umumnya, ketika daya beli melemah, masyarakat cenderung membeli produk murah dan celakanya, banjirnya produk China di dalam negeri yang diduga karena UU Permendag nomor 8 tahun 2024 itu justru semakin memperparah beralihnya masyarakat kita ke produk-produk China.

Namun, seandainya saja jika pemangku jabatan at least menurunkan pajak dan memperbanyak subsidi, saya cukup yakin PHK di Sritex, Yamaha, Sanken, dll bisa dihindari. Sayangnya, pemangku jabatan yang bertanggung jawab di bidang penganggaran, yang diduga banyak orang sebagai agen World Bank dan IMF, tidak mau memotong pajak dan tidak mau juga memperbanyak subsidi, Malahan justru yang dibahas terus menerus adalah bagaimana mencabut subsidi.

#sritex #phsk #pajak #thefed #suku Bunga #inflasi #ekonomi #deflasi #willyamwen

Pajak Makin Naik, Orang Makin Kabur, Ekonomi Deflasi?

Deflasi
Kita mempunyai seorang pejabat di bidang penganggaran itu yang pola pikir ekonominya destruktif, makanya kita sampai deflasi.

Contohnya? Beliau berpikir dengan terus menaikkan pajak, maka orang bakal semakin semangat bangun usaha dan semakin semangat bayar pajak sehingga setoran pajak bakal makin tinggi. Padahal yang terjadi sebaliknya, ketika pajak dinaikkan, baik pengusaha malah akan kabur bahkan ke luar negeri, demikian juga orang-orang kaya akan spending ke luar negeri, sehingga yang terjadi justru uang yang tadinya berputar di dalam negeri, malah berputar di luar negeri otomatis daya beli dalam negeri semakin melemah, ketika daya beli melemah, PHK mulai muncul dimana-mana, lalu bersambung ke deflasi, dan terjadi pelemahan pertumbuhan PDB, otomatis setoran pajak juga melemah.

Inilah yang dinamakan kebijakan yang destruktif. Kalau tak segera diganti, maka pejabat yang bersangkutan berpotensi akan menghancurkan ekonomi Indonesia dalam waktu dekat.

Ekonomi ini kita deflasi karena self suicide akibat kebijakan yang dilakukan oleh pejabat kita sendiri.

#eropa #pajak #thefed #suku Bunga #inflasi #ekonomi #deflasi #willyamwen

Konsep Ekonomi Negara-Negara Eropa Yang Destruktif

ekonomi
Jika anda hari lihat berita, anda akan lihat negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dll sedang dilanda krisis ekonomi.

Anehnya, kalau anda lihat negara-negara Asia seperti Uni Emirat Arab, Vietnam, India, dll, mereka fine-fine aja dan lebih durable. Kenapa?

Jawabannya karena pajak.

Negara-negara Eropa itu terkenal dengan pajaknya yang tinggi, tax rasio bisa sampai 40 persen karena para ekonom di sana itu menganut konsep ekonomi bahwa semakin besar pajak, maka konon rakyat akan semakin sejahtera.

Ini mitos dan dibantahkan oleh negara-negara Asia yang menerapkan pajak rendah. Terbukti ketika pajak rendah, negara-negara Asia lebih kuat ketika suku bunga the FED tinggi, dan negara-negara Eropa malah keok.

Konsep tax rate dan tax ratio ini terlihat fine-fine saja di Eropa ketika suku bunga the FED rendah. Namun, begitu suku bunga the FED tinggi, maka mereka akan mati sendiri. Kenapa? Kita tidak perlu jenius untuk memahami hal ini. Apa jadinya ketika sisi fiskal dan moneter sama-sama menyedot duit rakyat dalam jumlah besar? Dengan sendirinya ekonomi negara itu akan hancur. Itulah yang terjadi di Eropa sekarang.

DI negara-negara Asia, ketika suku bunga the FED tinggi, tetapi jika sisi fiskal tidak menyedot duit rakyat, maka negara-negara dengan pajak yang rendah justru dapat bertahan di tengah suku bunga the FED yang tinggi.

Hancurnya ekonomi negara-negara Eropa sekarang itu memmbuktikan bahwa paham bahwa semakin tinggi tax rate dan tax rasio maka sebuah negara akan semakin makmur ternyata terbantahkan.

Sayangnya, malang sekali untuk Indonesia, salah satu pejabat di negeri kita ini yang posisinya sangat penting malah justru menerapkan konsep ekonomi Eropa ini di Indonesia dengan terus menerus menaikkan pajak. Makanya banyak orang menduga bahwa beliau adalah agen World Bank dan IMF di Indonesia.

#eropa #pajak #thefed #suku Bunga #inflasi #ekonomi #deflasi #willyamwen

Karyawan RRI dan TVRI Di PHK Gara-Gara Efisiensi Anggaran? - Apa Hubungannya Sama Makan Siang Gratis?

Karyawan RRI TVRI Dipecat
Selama menteri yang di bagian penganggaran itu gak segera diganti, selamanya kita 5 tahun ke depan akan lihat dagelan ini.

Susah kalo menterinya menganut konsep subsidi silang di mana makan siang gratis ini harus dibayar oleh kelas menengah. Konsep seperti ini destruktif. Ini jelas bukanlah keadilan.

Kenapa? Percuma ada yang yang bisa makan siang gratis, tapi harus ditukar dengan orang yang di PHK. Apakah ini yang dinamakan keadilan?

Semua ini karena mind set pejabat terkait itu selalu harus subsidi silang. Negara seperti India juga ada konsep makan siang gratis, tapi tidak menggunakan konsep subsidi silang.

Solusinya? Solusinya naikkan defisit anggaran ke 6 persen, maka negara bisa dapat anggaran ekstra Rp 880 triliun tanpa harus efisiensi anggaran. Jadi tak perlu ada yang di PHK dan Makan Siang Gratis tetap berjalan.

Efek samping? Paling inflasi hanya di sekitar 5-7 persen, itu bukan inflasi yang berbahaya, itu justru inflasi yang bagus.

Buktinya? Buktinya India selalu hidup dengan inflasi 5 sampai 7 persen, tapi aman-aman aja.

Lalu kenapa pejabat terkait tak mau? Karena dia punya konsep ajaran ekonomi yang dianut oleh negara-negara barat di Eropa bahwa inflasi tak boleh lebih dari 2 persen dan defisit anggaran tidak boleh dari 3 persen. Itu sebabnya opsi yang dia ambil selalu naikin pajak atau potong anggaran.

Dia tak akan pernah bisa memahami kenapa negara seperti India dan China bisa defisit tanpa harus menaikkan pajak dan memotong anggaran karena negara India dan China tidak mengikuti pola ekonomi negara-negara Barat yang justru sekarang terbukti krisis Ekonomi gara-gara konsep ekonomi yang destruktif seperti ini.

Pemahaman destruktif seperti inilah sumber carut marutnya perekonomian kita sekarang.

#deflasi #anggaran #efisiensi #tvri #rri #makansianggratis #ekonomi #willyamwen

Indonesia Deflasi Lagi Januari 2025?? - Kenapa Tetap Bersikeras Terus Memungut Pajak Yang Jelas-Jelas Melemahkan Daya Beli?

Deflasi Indonesia
Data sudah jelas di depan mata, tetapi tetap bersikeras bahwa yang dilakukannya benar, padahal data sudah di depan mata, deflasi trus secara bulanan, tapi masih tetap bersikeras untuk terus menerus menaikkan pajak, mencabut subsidi, bahkan subsidi gas melon 3kg pun mau dicabut, data sudah di depan matanya, deflasi beruntun, kelas menengah hancur, tapi masih yakin jalan yang ditempuhnya itu benar.

India malah saat ini malah menaikkan ambang penghasilan tak kena pajak dari Rp 130 juta per tahun ke Rp 220 juta setahun agar kelas daya beli kelas menengahnya terjaga, sedangkan negara Indonesia tercinta ini, menterinya malah sibuk cabut subsidi gas melon 3kg, gimana simulasi ekonominya yang membuat pejabat konoha ini yakin dengan cabut subsidi gas melon maka akan terjadi ledakan ekonomi??

Semua negara seperti Amerika, China, Jepang, India, Vietnam saat ini sedang sibuk menurunkan pajak dan memperbanyak stimulus. Kenapa? Karena suku bunga the FED yang tinggi.

Orang kalau waras pasti tahu, kalau suku bunga the FED tinggi, ya potong pajak dan perbanyak stimulus supaya daya beli rakyatnya terjaga. Aneh sekali, di Indonesia suku bunga the FED tinggi, pejabatnya malah sibuk bahas kenaikan PPN dan pencabutan subsidi gas melon.

#deflasi #pajak #coretax #ekonomi #willyamwen

Situs Coretax Selalu Error Padahal Menelan Anggaran Rp 1.3 Triliun?? Coretax Atau Corestress??

coretax
Hari ini. 12 Januari 2025, terpaksa gw harus ke KPP gw untuk ngurus SKD SPDN (Surat Keterangan Domisili gw dan lucunya tuh Coretax juga error di komputer pegawainya hehe. Bahkan, pegawainya sendiri terlihat bingung untuk mencari menu "SKD SPDN" nya dan itu pun harus gw yang nunjukkin ke pegawainya di mana letak menunya itu dan setelah dapat, ketika mau diproses data=datanya, loading terus gak habis-habis, dan setelah ditungguin lama, error hehe.

Kondisi seperti ini, menurut saya, diduga server yang dipake adalah server murahan atau hosting yang dipake juga murahan. Selain itu, diduga kuat juga di dalam website terjadi banyak kesalahan coding yang menyebabkan terjadinya banyak error. Apakah pantas sebuah website dengan budget Rp 1.3 triliun itu, bisa terjadi error server karena membeludaknya trafik dan juga kesalahan coding sana sini?

Itulah, saya tidak setuju dengan konsep bahwa semakin pajak ditarik semakin besar, maka rakyat akan semakin sejahtera. Itu jelas mitos. Kenapa? Karena ketika pajak ditarik tanpa pengawasan yang jelas, hasilnya hanyalah kebocoran anggaran sana sini. Kalau hanya menarik pajak, naikin tax rate dan juga tax ratio, tapi gak pernah dilakukan pengawasan kebocoran pajaknya, ya hasilnya seperti ini.

Menaikkan tax rate, itu berarti sudah melemahkan daya beli yang konon katanya bisa meningkatkan ekonomi, tetapi ya begitulah, duit pajak itu, salah satunya dihambur-hamburkan untuk membangun web yang bahkan sering error dan tampilannya juga tak mencerminkan bahwa itu web seharga Rp 1.3 triliun.
Selain itu, kenapa juga harus membangun sebuah sistem dari nol lagi? Kenapa tidak diupggrade saja situs DJP Online yang lama? Kenapa harus mulai dari nol lagi? Hal ini justru juga membuat banyak petugas pajak sendiri kebingungan di website yang baru ini. Jika para pegawai pajak yang setiap hari berurusan dengan pajak saja kebingungan setengah mati, apalagi rakyat biasa?

Cobalah berpikir sebagai seorang sarjana, bagaimana membuat sebuah hal yang rumit menjadi simpel, jangan hal simpel dibuat rumit. Saya saja yang hanya ngurus SKD SPDN saja lumayan pusing, apalagi para pengusaha yang dibuat pusing sama Coretax ini dimana banyak barang mereka gak bisa keluar hanya karena faktur pajak mereka gak bisa keluar.

#pajak #coretax #ekonomi #willyamwen

Pajak Dan PPN Harus Naik Jika Tidak Ingin Indonesia Dalam Bahaya?? - Bisakah Masalah Diselesaikan Tanpa Menaikkan Pajak??

pajak

BENARKAH SOLUSI SATU-SATUNYA ITU MENAIKKAN PAJAK DAN JUGA PPN?

Tidak benar bahwa Indonesia dalam bahaya sehingga jika tidak dinaikkan pajak, Indonesia tak bisa bayar hutang dan berada di dalam situasi yang berbahaya.

Hutang Indonesia itu mostly hutang domestik, di mana salah satunya BI ketika membeli surat utang Indonesia, maka BI bisa mencetak uang baru untuk membayar utang negara. Itu praktik umum di berbagai negara.


Contohnya, Jepang bertahun-tahun melakukan hal ini dan negaranya tidak bangkrut, demikian juga China juga baru-baru ini memberikan stimulus dengan mencetak uang baru sebesar Rp 4.000 triliun.

Lalu kenapa seolah2 dinarasikan berbahaya? Semua tergantung penafsiran para ekonom yang berada di balik pemerintah. Jika para ekonom tersebut menganut paham ala the FED bahwa inflasi harus 2 persen, maka para ekonom ini akan terjebak dalam kekolotan bahwa inflasi di atas 2 persen itu berbahaya, sehingga para ekonom ini akan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga agar inflasi tidak di atas 2 persen.

Para ekonom ini akan terus berpikir bahwa inflasi 3 atau 4 persen itu berbahaya dan dengan segera langsung menghajarnya dengan pajak supaya kembali ke 2 persen.

Padahal, bisakah diselesaikan tanpa harus menaikkan pajak? Sangat bisa. Paling-paling hanya inflasi naik ke 4, 5, 6, 7 persen dan inflasi ini tak seberbahaya yang dikira orang.

Di zaman pak SBY, inflasinya rata-rata 8 persen, bahkan pernah 17 persen, dan ternyata kita fine fine aja tuh. Bahkan, jika anda menengok inflasi India saat ini yang ada di angkar 5%-7%, maka anda akan terkejut bahwa kondisi mereka baik-baik saja. Malah justru, negara-negara seperti Inggris dan Jerman yang inflasinya sekarang kecil hanya di angka 1.7%, malah justru ekonominya hancur dan kita juga Indonesia, inflasi hanya di angka 1.8%, eh yang terjadi justru daya beli kita hancur dan kelas menengah juga hancur.

Jadi tidak benar bahwa jika tidak dinaikkan pajaknya, maka negara dalam bahaya. Justru dengan menaikkan pajak, yang terjadi adalah daya beli semakin hancur dan pertumbuhan ekonomi semakin kecil.



#ppn #ppn12% #umkm #ekonomi #indonesia #deflasi #penulis #penerjemah #blog #blogger #willyamwen

PPN 12% Akan Segera Berlaku Awal 2025?? - Daya Beli Bakal Makin Melemah??

Sri Mulyani

PERCUMA BUKA USAHA KALAU PAJAK TINGGI?

Jika mau buka usaha, berpikirlah berkali-kali jika pemangku kebijakan tetap terlihat tak peduli dan tetap bersikeras bahwa metodenya yang paling benar, meskipun sudah dihantam deflasi 5 bulan beruntun, dikritik oleh banyak ekonom, tetapi masih tetap bersikeras harus menaikkan PPN 12%, maka itu bisa jadi indikator bahwa kalau jika anda mau membuka usaha atau ekspansi usaha, maka kemungkinan besar anda bakal bangkrut.

Saya punya seorang kenalan yang ambil utang di bank BRI sekitar Rp 500 juta untuk buka cabang baru di bisnis restorannya, yang ternyata hasilnya menderita kerugian dan konon sekarang rumah mau dijual untuk nutup hutang bank.


Bagaimana mungkin dia bisa menutup segala biaya operasionalnya, suku bunga tinggi, pajak terus naik yang secara otomatis membuat daya beli melemah, dan anda berharap bahwa masyarakat bakal akan makin sering datang makan di restorannya di tengah daya beli yang melemah? Of course not.

Kita bisa terhindar dari jerat kemiskinan asalkan kita bisa sedikit saja menganalisa kebijakan pemerintah. Dengan analisa gini aja, kita tahu daya beli bakal makin melemah, jadi bunuh diri kalau mau coba ekspansi usaha. Jauh lebih baik tidur dan investasi di tempat yang tepat, gak perlu berusaha, karena 90 persen kamu bakal gagal.



#ppn #ppn12% #umkm #ekonomi #indonesia #deflasi #willyamwen

Salah Paham Soal Inflasi Justru Menghancurkan Pertumbuhan Ekonomi?? Penyebab Deflasi 5 Bulan Berturut-Turut Dikarenakan Salah Paham Soal Inflasi??

Inflasi selama hanya 5-10%, tidak perlu dianggap sebagai musuh atau sesuatu yang berbahaya yang harus dijinakkan dengan cara memperbesar pajak dan memperbanyak iuran dengan tujuan menghancurkan daya beli agar inflasi roboh ke 2%.

Inflasi selama bukan hiperinflasi, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, justru itu tanda ekonomi sedang naik.

Contoh gampang begini, harga siomai di Pantai Indah Kapuk bisa Rp 20 ribu satu biji, artinya jika anda membeli satu piring siomai dengan isi 5 biji, maka anda harus merogoh kocek Rp 100.000. Mungkin di daerah lain, siomay dengan kualitas sama hanya Rp 5.000 sebiji, sehingga jika anda membeli satu piring siomai yang berisi 5 biji dengan kualitas siomai yang sama, maka anda hanya cukup merogoh kocek Rp 25.000.

Nah di sinilah pertanyaannya timbul. Mengapa di PIK, harga siomai satu piring berisi 5 biji itu bisa naik sampai 4x lipat atau 300%? Kenapa bisa terjadi inflasi 300% di PIK? Simpel, jawabannya karena di PIK banyak sekali orang super kaya tinggal di sana! Ketika di satu daerah, orang-orangnya ekonominya makmur, maka sudah pasti terjadi inflasi. Tidak mungkin jika di satu daerah dipenuhi oleh orang-orang yang ekonominya sedang makmur, tidak terjadi inflasi. Tidak mungkin.

Jadi inflasi ada proses natural dari sebuah ekonomi yang menggeliat. Ketika inflasi terjadi di sebuah daerah, maka itu sebenarnya itu adalah tanda bahwa ekonomi di daerah itu sedang menggeliat. Balik ke kasus Pantai Indah Kapuk tadi, ketika terjadi inflasi sebesar 300% untuk harga siomay di sana, jangan sampai disalahpahami bahwa orang-orang di PIK tersiksa dan keberatan dengan harga siomay yang bisa tembus rp 100.000 untuk 5 biji. Sama sekali jangan ditafsir demikian! Meskipun harga siomai di PIK itu Rp 100.000 satu piring, tetapi orang-orang sana tidak keberatan dengan harga segitu. Jadi jangan dianggap bahwa orang-orang di PIK tersiksa dan keberatan dengan harga siomay semahal itu. Jadi, pemerintah tidak perlu repot-repot menaikkan pajak khusus berlipat-lipat untuk warga PIK dan memperbanyak iuran khusus hanya agar daya beli warga PIK jatuh sehingga harga siomai ke rp 25.000 semangkok.

Masalah itu akan timbul ketika pemerintah dalam hal ini salah menafsirkan inflasi yang terjadi di PIK itu. Pemerintah menafsirkan inflasi yang 300% di PIK itu sebagai sesuatu yang berbahaya, sedangkan masyarakat di sana sama sekali tidak keberatan dengan harga siomai rp 100 ribu itu. Justru, UMKM di daerah PIK itu jadi senang, karena mereka bisa menjual harga siomai 4x lipat lebih mahal daripada di daerah lain dan jualan mereka tetap laris manis di PIK. Itu justru menandakan bahwa inflasi yang terjadi di PIK itu malahan adalah sesuatu yang sangat positif karena ekonomi di sana sedang booming dan UMKM di sana sangat senang.

Masalah timbul dan akan jadi sangat ironis jika pemerintah justru menganggap itu sesuatu yang berbahaya yang harus segera dijinakkan dengan memperbanyak pajak dan iuran wajib. Ketika pemerintah salah menafsirkan inflasi tersebut, maka dengan segera pemerintah pasti akan menggelontorkan berbagai macam kebijakan seperti kenaikan pajak yang gila-gilaan untuk warga PIK hanya dengan tujuan agar siomai yang sepiring rp 100 ribu bisa kembali ke rp 25 ribu sama seperti daerah lain. Ketika pemerintah melakukan ini, maka warga PIK di situ justru malah tertekan dan hancur daya belinya karena pajak yang besar. UMKM yang menjual makanan di situ juga jadi bingung dan dirugikan, kok tiba-tiba daya belinya lesu? Kok biasanya saya jual siomay 100 ribu laku keras, kok sekarang dijual rp 50 ribu saja sepiring susah laku? UMKM di sana akan bingung dan akan terus menurunkan harga karena daya beli yang hancur dan akhirnya pedagang siomai itu harus menurunkan harga sampai ke rp 25 ribu sepiring, barulah penjualannya bisa normal. Memang betul, inflasi akan turun dengan cara seperti ini, tapi caranya menurut saya keliru karena yang dilakukan adalah menghancurkan daya beli. Yang lebih ironis lagi sebenarnya adalah ketika pemerintah berhasil menurunkan harga siomai ke rp 25 ribu di PIK, pemerintah mengklaim itu sebagai prestasinya menurunkan inflasi padahal kalau anda paham cerita ini, ini bukanlah sebuah prestasi, tapi sebuah kesalahan. Warga PIK sama sekali tidak membutuhkan intevensi pemerintah untuk menurunkan harga siomai ke rp 25 ribu karena sejak awal mereka tidak pernah mempermasalahkan harga siomai yang rp 100 ribu itu. Demikian juga, UMKM di sana juga pasti akan marah besar karena daya beli turun, keuntungan mereka berkurang, dan dagangan mereka tidak laku. Sangat ironis sebenarnya jika yang berkepentingan menganggap ini sebagai sebuah prestasi

Analogi harga siomai di PIK di atas itulah yang sebenarnya menurut saya terjadi sekarang di Indonesia ini. Deflasi 5 bulan berturut-turut ini terjadi menurut saya karena salah paham soal inflasi. Menghancurkan inflasi sampai ke 2% atau malah sampai deflasi dengan cara menghancurkan daya beli itu jelas bukanlah sebah prestasi, tetapi menurut saya itu sebuah kekeliruan. Menurut Robert Pollin, seorang profesor ekonomi terkemuka di Universitas Massachusetts Amherst sekaligus direktur Political Economy Research Institute (PERI), [1] dan juga Hanae Bouazza, seorang siswa PhD ekonomi di Universitas Massachusetts Amherst,[2] justru ekonomi sebuah negara akan tumbuh secara optimal ketika inflasi ada di range minimal 4%-5%, bahkan paling optimal ketika ada di range 5%-10%, bukan 2%.[3] Menurut mereka, justru target inflasi 2% malah merusak pertumbuhan ekonomi.[4]

Sumber Gambar: "Two Percent Inflation Targeting Harms Growth (Menargetkan Inflasi Dua Persen Merusak Pertumbuhan Ekonomi)"

Berdasarkan gambar di atas yang merupakan hasil penelitian Robert Pollin dari dengan mengambil sampel pertumbuhan GDP berbagai negara dari tahun 1960-2021, di situ bisa terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi paling maksimal terjadi ketika inflasi ada di angka 5%-10%, sedangkan jika memang terlalu takut dengan inflasi 5%-10%, setidaknya angka inflasi terbaik ada di angka 2.5%-5% yang menghasilkan pertumbuhan rata-rata setidaknya 4.1%. Justru kinerja terburuk pertumbuhan ekonomi sebuah negara ketika inflasi berada di range 2% atau lebih rendah dari 2%.

Inilah yang dimaksudkan salah paham soal inflasi. Ketika inflasi yang sebenarnya bagus tapi ditafsir buruk oleh pemerintah, maka yang terjadi adalah salah langkah yang justru malah menghancurkan daya beli masyarakat. Deflasi 5 bulan beruntun di Indonesia, menurut hemat saya, terjadi karena misinterpretasi soal inflasi. Menurunkan inflasi ke 2% atau bahkan sampai deflasi dengan cara menghancurkan daya beli masyarakat seharusnya itu bukanlah prestasi, tetapi sebuah kesalahan.
Ketika Indonesia inflasinya baru naik sedikit 5%, pemerintah kita langsung bereaksi berlebihan dengan langsung menanggapinya dengan memperbanyak berbagai macam pajak dan iuran termasuk juga dengan menaikkan suku bunga dengan tujuan agar daya beli masyarakat jatuh sehingga inflasi bisa tercapai ke 2%. Langkah ini tidak tepat. Jika anda membaca periode inflasi negara China yang terjadi di zaman Deng Xiaoping pada tahun 1978-1994 di mana saat itu pertumbuhan rata-rata ekonomi China itu 10% per tahun,[5] maka anda boleh perhatikan tingkat inflasi negara China itu pada tahun 1978-1994 itu tinggi semua. Misalnya jika anda membuka data inflasi China tahun 1987-1994 (sayangnya saya tidak menemukan data inflasi dari tahun 1978),[6] maka anda akan menemukan rata-rata inflasi China ada di angka 11% per tahun!!!

Jadi apakah inflasi rata-rata China ada tahun 1987-1994 yang rata-rata 11% per tahun itu berbahaya bagi China?? Tidak sama sekali!! Justru itu menjadi tanda bahwa ekonomi China sedang booming dan meledak. Deng Xiaoping menyadari kesalahpahaman di antara ekonom barat soal inflasi dan Deng Xiaoping berani untuk tidak takut menghadapi inflasi selama bukanlah hiperinflasi. China tidak akan pernah bisa sampai sekarang jika Deng Xiaoping itu saat itu ketakutan dengan inflasi 11% per tahun dan langsung membantai daya beli dengan menaikkan pajak di mana-mana, sudah pasti jika Deng Xiaoping melakukan itu, tidak akan pernah ada China yang sekarang!!

Inilah menurut saya pribadi, sumber kenapa Indonesia bisa deflasi 5 bulan berturut-turut, yaitu sebuah pemahaman yang keliru bahwa inflasi 2% bisa membawa pertumbuhan ekonomi yang dashyat, sedangkan inflasi 5%-10% adalah sesuatu yang berbahaya yang harus dijinakkan sesegera mungkin (sesuatu yang tidak dilakukan oleh Deng Xiaoping).

Jika Indonesia terus menerus menerapkan kebijakan target inflasi harus 2%, maka sangat sulit rasanya jika Indonesia bisa mengejar China dan juga bahkan India (inflasi India saat ini tercatat 5.49% dan pemerintah India tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang harus dijinakkan ke 2%). Bukan hanya sangat sulit, tapi sepertinya itu hanya sekedar mimpi.

CATATAN KAKI
1. University of Massachusetts Amherst. "Robert Pollin: Co-Director of the Political Economy Research Institute Distinguished Professor of Economics". University of Massachusetts Amherst. Diakses 18 Oktober 2024.
2. Political Economy Resarch Institute. "Hanae Bouazza". Political Economy Resarch Institute. Diakses 18 Oktober 2024.
5. Alvin Rabushka. "The Great Tax Cut of China". Hoover Digest. Diakses 18 Oktober 2024.
6. Macro Trends. "China Inflation Rate 1987-2024". Macro Trends. Diakses 18 Oktober 2024.

SUMBER:
  • Willyam Wen. "Salah Paham Soal Inflasi Justru Menghancurkan Pertumbuhan Ekonomi?? Penyebab Deflasi 5 Bulan Berturut-Turut Dikarenakan Salah Paham Soal Inflasi??". Willyam Wen. Diakses 23 Januari 2025.
  • University of Massachusetts Amherst. "Robert Pollin: Co-Director of the Political Economy Research Institute Distinguished Professor of Economics". University of Massachusetts Amherst. Diakses 18 Oktober 2024.
  • Political Economy Resarch Institute. "Hanae Bouazza". Political Economy Resarch Institute. Diakses 18 Oktober 2024.
  • Robert Pollin dan Hanae Bouazza. "Two Percent Inflation Targeting Harms Growth: Research shows that economies perform better at modestly higher inflation rates.". The American Prospect. Diakses 18 Oktober 2024.
  • Alvin Rabushka. "The Great Tax Cut of China". Hoover Digest. Diakses 18 Oktober 2024.
  • Macro Trends. "China Inflation Rate 1987-2024". Macro Trends. Diakses 18 Oktober 2024.

  • ARTIKEL EKONOMI LAINNYA:
  • Salah Paham Soal Inflasi Justru Menghancurkan Pertumbuhan Ekonomi?? Penyebab Deflasi 5 Bulan Berturut-Turut Dikarenakan Salah Paham Soal Inflasi??
  • Ekonomi Indonesia Di Tahun 2024 Berpotensi Cerah? - Berapa Besar Defisit Anggarannya?

  • MY SITES:
  • Facebook Page (Ekonom Jalanan)
  • Facebook Group (Ekonom Jalanan)
  • Blog (Ekonomi)
  • Blog (Ekonomi)


  • #ekonomi #deflasi #inflasi #pajak #pertumbuhanekonomi #willyamwen

    Ekonomi Indonesia Di Tahun 2024 Berpotensi Cerah? - Berapa Besar Defisit Anggarannya?

    Ekonomi Indonesia
    Defisit anggaran di tahun 2024 sekitar Rp 550 triliun yang dipakai untuk BLT tahun ini. Menariknya, itu hanya 2.7 persen dari PDB Indonesia saat ini yang ada di angka Rp 20.800 triliun.

    Tahun 2025, kemungkinan PDB kita akan meningkat 5 persen di angka Rp 22.800 triliun. Jika dihitung ambang batas 3 persen untuk defisit anggaran, maka kita punya space Rp 684 triliun. Jika BLT Rp 550 triliun, maka masih ada Rp 130 triliun untuk anggaran makan siang gratis.

    Indonesia sangat beruntung karena booming harga batu bara 2022-2023 lalu, sehingga kita bisa menganggarkan dana begitu banyak dengan inflasi yang kecil, hanya 2.6 persen.


    Defisit anggaran sebenarnya bukanlah sebuah musuh, melainkan bisa menjadi sahabat asal bisa terkontrol dengan baik. Standar defisit anggaran terhadap PDB yang dijadikan acuan umum sebenarnya adalah 3%. Namun, beberapa negara seperti India misalnya, sering memaksimalkan defisit anggaran mereka sampai 6% dari PDB mereka. Itu sebabnya ekonomi India tumbuh dengan pesat.

    Masa depan Indonesia di bawah rezim yang baru, meskipun memang belum resmi, tetapi kelihatannya 02 berpotensi besar menjadi presiden yang sah untuk 5 tahun ke depan, dan kelihatannya memang 02 akan mengadopsi gaya ekonomi yang dilakukan oleh India. Jika ini benar dilakukan oleh 02, kemungkinan untuk tahun 2024 ini, sementara terpantau cerah, atau bahkan mungkin 2025. Entahlah jika untuk tahun 2026 dan seterusnya, tetapi saya sebagai warga negara Indonesia benar-benar sangat mengharapkan negara Indonesia menjadi negara yang maju dalam bidang ekonomi dan juga dalam segala bidang lainnya.

    Kecilnya inflasi nasional saat ini yang hanya sebesar 2.7% di bulan Februari 2024 padahal BLT tahun 2024 sudah mencapai Rp 550 triliun, mengindikasikan betapa dashyatnya booming batu bara pada tahun 2022 dan 2023 kemarin sehingga menurut saya pribadi, memang kelihatannya ekonomi Indonesia di 2024 ini lumayan cerah.


    #ekonomi #indonesia #deflasi #willyamwen