Salah satu konsep yang menarik di dalam Kekeristenan adalah konsep mengenai Yesus sebagai “Logos (λόγος) ‘Firman’”. Pernyataan bahwa Tuhan Yesus adalah “Logos (λόγος) ‘Firman’” tercantum di dalam Injil Yohanes:
Pada permulaan, terdapat Logos, dan Logos tersebut bersama-sama dengan Sang Theos, dan Logos tersebut adalah seorang Theos
Yunani: Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος.
Injil Yohanes 1:1, Teks Byzantium, Terjemahan Literal
Frase ini merupakan frase yang sangat terkenal sekali di dalam Injil Yohanes. Yohanes membuat pernyataan yang sangat mencengangkan bahwa Tuhan Yesus adalah Logos (λόγος). Tidak hanya itu saja, Yohanes lebih jauh lagi melanjutkan tulisannya bahwa Logos (λόγος) juga adalah Allah.
Mengingat frase mengenai Logos (λόγος) ini hanya muncul pada Yohanes 1 saja dan Yohanes tampaknya tidak menjelaskan lebih detail lagi mengenai siapa itu Logos (λόγος), maka muncul dugaan kuat bahwa tampaknya konsep Logos (λόγος) ini merupakan konsep yang sangat umum sekali pada zaman itu sehingga Yohanes merasa tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi mengenai siapa dan apa itu Logos (λόγος).
Konsep Logos (λόγος) ini memang merupakan konsep yang sangat umum sekali pada zaman Yohanes hidup. Kata Logos (λόγος) sendiri dalam dunia Helenisme memiliki arti “firman”, “peribahasa”, “pernyataan”, “kisah”, “pembelaan”, atau bahkan “ringkasan”. Banyaknya makna dari kata “Logos (λόγος)” ini bergantung pada konteks tempat dan juga masa pada saat kata tersebut dipakai.
Konsep Logos (λόγος) ini merupakan konsep yang sangat populer sekali di kalangan Helenisme. Di kalangan orang-orang Yahudi sendiri, yang mempopulerkan konsep Logos (λόγος) ini adalah “Philo dari Aleksandria”, seorang penafsir alegoris Yahudi terkenal dan juga seorang filsuf terkemuka Yahudi pada zaman itu yang hidup di Aleksandria pada tahun 25 SM–50 M.
Gampangnya, Philo hidup 20 tahun sebelum Yesus lahir dan dia masih hidup 20 tahun ketika Tuhan Yesus mati. Hal ini berarti bahwa Philo hidup sezaman dengan Yesus dan juga para rasul dan hal ini memunculkan dugaan bahwa pengajaran-pengajaran Philo – termasuk dalam soal Logos (λόγος) – mempengaruhi Paulus dan juga rasul-rasul lainnya pada zaman itu.
Bahkan, bapa-bapa gereja seperti Clement dari Alexandria, Athenagoras, Theophilus, Yustinus Martir, Tertulianus, dan juga Origenes terlihat terpengaruh oleh ajaran-ajaran Philo. Philo memadukan konsep dari kebijaksanaan Yunani dengan agama Ibrani dengan penafsiran alegoris yang dia pelajari dari kaum Stoics.
Dengan konsep Logos (λόγος) yang dipopulerkan oleh Philo ini, membuat penulis Injil Yohanes tampaknya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar mengenai siapa itu Logos (λόγος) karena Philo sudah mengupasnya secara tuntas di dalam karya-karyanya mengenai siapa itu Logos (λόγος).
Daniel Boyarin mengatakan bahwa bagian terbesar dari pemikiran Helenisme yang masuk ke dalam Kekeristenan mula-mula adalah konsep mengenai Logos (λόγος) yang sebenarnya merupakan bagian integral dari Yudaisme abad pertama. Daniel Boyarin memberikan penegasan seperti ini mengenai konsep Logos (λόγος) di dalam Yudaisme:
Yudaisme dan Kekeristenan tetap terjalin dengan baik melewati pertengahan pertama dari abad kedua sampai pada Yudaisme Rabbinik di dalam usaha dari para native (pribumi) mereka berusaha untuk memisahkan diri dari sejarah mereka sendiri terhadap teologi Logos Kristen sekarang, dan Yudaisme memulai untuk membayangkan dirinya sendiri sebagai sebuah komunitas yang terbebas dari Helenisme.
Inggris: Judaism(s) and "Christianit(ies)" remained intertwined well past the first half of the second century until Rabbinic Judaism in its nativist attempt to separate itself from its own history of now "Christian" logos theology began to try to imagine itself a community free of Hellenism.
Dengan demikian, pada awalnya terlihat bahwa Logos (λόγος) merupakan konsep yang sebenarnya berasal dari Yudaisme, tetapi perlahan-lahan, orang Yahudi sendiri yang akhirnya mulai memisahkan diri dari konsep mereka sendiri.







0 Comments:
Post a Comment